Assallamulaikum Wr.Wb
Salam cinta sobat....
Saya berharap semoga sobat semua dalam kondisi sehat selalu dan penuh rasa syukur atas setiap kebahagiaan dan berkah ilahi. Amin
Saya mau sharing tentang peristiwa yang terjadi dalam
perusahaan, dimana hal ini pada beberapa perusahaan tidak berkaitan langsung
pada transaksi utama (operasional) tetapi berpengaruh besar pada kesehatan
financial yang dapat mengganggu pembiayaan operasional transaksi yang utama.
Beberapa tahun lalu, saya punya pengalaman dimana perusahaan
dengan bidang Manufacture dan Distribusi tempat saya bekerja melakukan beberapa
kegiatan “Investasi” yang mengakibatkan kondisi keuangan perusahaan tidak
bagus.
Saat itu perusahaan menggunakan Modal Kerja dari Pinjaman
Bank (berakibat timbulnya bunga atas pinjaman bank), kemudian selama 1 tahun
melakukan investasi (menurut pihak Top Manajemen) dalam bentuk pembelian Aset
Tetap (fix asset) serta untuk pendanaan atas kegiatan Promosi & Branding.
Tujuan kegiatan investasi tersebut adalah untuk peningkatan kapasitas penjualan
baik langsung dan tak langsung, serta profitabilitas perusahaan.
Bagaimana saya menilai bahwa kegiatan investasi ini masih
wajar dan sehat?
Poin yang perlu diperhatikan terlebih dahulu dalam kasus ini:
Sumber dana adalah hutang bank (loans) dimana menimbulkan beban bunga
dan angsuran pokok. Bunga yang tidak dibayar pada periode terhutang, maka akan
mulai menjadi pokok untuk periode berikutnya (hutang akan semakin besar karena
pokok hutang semakin besar).
2
Angka yang layak bagi perusahaan melakukan
investasi adalah dari Laba Ditahan yang selama ini dikumpulkan (akumulasi). Jadi apabila Laba Ditahan minus (rugi), maka
perusahaan tersebut belum layak melakukan investasi, karena target semestinya
yang baik bukanlah investasi melainkan untuk memperbaiki profitabilitas
terlebih dahulu.
3
Poin 2 bisa diabaikan apabila Modal Investasi
tersebut adalah dari Pemilik dan dengan tujuan untuk memperbaiki
Profitabilitas. Hal ini karena Modal Kerja dar i Pemilik tidak menimbulkan
beban bunga dan angsuran.
4
Tujuan dari perusahaan yang ingin meningkatkan
kapasitas penjualan & profit.
5
Penjualan dalam bidang usaha seperti ini
memiliki karakteristik penjualan kredit yang komposisinya bisa mencapai 50:50
dengan penjualan tunai.
Langkah yang digunakan untuk membuat analisa keuangannya
adalah:
1 1. Rekap semua penggunaan dana investasi dari
Hutang Bank tersebut
2 2. Kelompokkan alokasi penggunaannya menjadi 3
kelompok, yaitu:
a.
Pengadaan Aset Tetap (berwujud dan tak
berwujud),
b.
Pembiayaan (beban biaya),
c.
Pembayaran Angsuran & Bunga Pinjaman Bank
(Installment)
3 3. Hitung Laba Usaha Ditahan (non bunga bank, non
penyusutan aset dari hasil investasi periode tersebut, serta non poin 2b)
sampai dengan periode yang sama dengan penggunaan Modal Kerja dari Bank
tersebut (konsisten sesuai cut off period)
4 4. Kurangkan jumlah Laba Ditahan poin 3 dengan Total
Nilai Penggunaan Dana Pinjaman Bank tersebut
Hasil analisa yang dapat muncul adalah:
1 1. Jika Hasilnya adalah Minus (Laba Ditahan lebih
sedikit dari Pinjaman Bank), maka terjadilah Defisit Investasi.
Dimana nilai
investasi melebihi kelayakan serta memliki resiko besar terhadap kesehatan
financial untuk waktu mendatang
2. Jika hasilnya Plus, maka hal ini dari sisi
Profitabilitas masih bisa diterima (aman)
Apakah masalah
selesai?? Belum sobat….Cash flow perusahaan masih belum sehat.
Lalu apa sebab
lainnya?
Analisa saya terakhir adalah mengacu pada poin “Penjualan
dalam bidang usaha seperti ini memiliki karakteristik penjualan kredit yang
komposisinya bisa mencapai 50:50 dengan penjualan tunai”.
Artinya adalah keuangan perusahaan alias cash flow tidak
selalu sama dengan profitabilitas perusahaan. Karena masih ada dana yang
tertahan dipelanggan bahkan macet. Ketika dana macet serta dana yang tersedia
mepet hanya cukup untuk pembiayaan operasional, maka Bank akan melakukan
autodebit untuk Intallment dan secara tidak langsung bunga bank akan bertambah
besar untuk bulan berikutnya.
Apalagi jika terdapat
piutang macet atau tidak lancar, maka uang masuk (semestinya) tidak sama dengan
nilai penjualan yang terjadi dengan sistem accrual basis. Jika ini tidak segera
diatasi maka akhirnya dari sisi profitabilitas akan Loss dan dari sisi cashflow
operasional akan Defisit.
Dalam hal ini Manajer Keuangan atau CFO akan pusing berat,
sobat….(ber…ba…ha…yaaa….hehehehe)
Untuk caranya akan kita bahas dilain waktu ya sobat….see
yaaa
No comments:
Post a Comment